Skip to main content

Cermin: Rencana nikah batal karena adat dan kehormatan

Rencana nikah batal karena adat dan kehormatan adalah cerita mini (cermin) tentang sepasang manusia yang telah menjalin hubungan dalam jalin cinta kasih tetapi karena ketidakjujuran perempuan tentang masa lalunya akhirnya rencana menikah pun tidak jadi.

Nah apa yang membatalkan rencana pernikahan tersebut, sehingga membatalkan pernikahan sepihak selengkapnya disimak saja cerita mini atau cermin berikut ini berjudul cintai putriku

Cermin: CINTAI PUTRIKU

"Kenapa harus bohong?" lirih Jaka, meminta penjelasan Rita.

"Karena aku mencintaimu," jawab Rita singkat.

"Cinta? Mencintaiku!" timpal Jaka

"Ya mas, karena cinta aku takut kehilanganmu."

Jaka menghela nafas panjang. Alasan Rita masuk akal. Tapi kenapa tidak dari awal dia mengatakannya. Kenapa setelah bertunangan baru jujur.

"Tuhan ... Beri aku jawaban" bisik jaka dalam hati.

"Mas, jika putriku adalah sebuah penghalang, lebih baik putuskan saja pertunangan ini. Ini jauh lebih baik daripada kelak sudah menikah. Hanya pertunangan, tidak lebih berharga."

"Tidak berharga? Tapi ini langkah awal menuju sebuah ikatan pernikahan,"

"Lalu ... Apa yang mas rencanakan setelah mengetahui aku memiliki anak tanpa ayah, tanpa sebuah pernikahan?"

Jaka kembali terdiam.

Pikirannya tidak hanya pada rasa malu saja, ada kehormatan, tradisi, adat memenuhi rasa was-was dalam hatinya. Ketakutan menjalari pikirannya.

Jaka bisa saja meninggalkan Rita, memutuskan pertunangan ini.

Tidak! Jaka sudah terlanjur mencintai Rita. Yang jadi permasalahan, apakah dia mampu menjelaskan pada seluruh orang termasuk keluarganya, tentang keadaan Rita sebenarnya.

Jaka bingung, apakah harus dia mengorbankan cintanya. Mendengarkan omongan orang lain untuk membantu membuat sebuah keputusan. Atau dia rela hidup dalam cemoohan dengan menikahi seorang perempuan yang telah memiliki anak tanpa sebuah pernikahan.

"Mas, bila kamu ragu dengan pernikahan kita, lebih baik kamu lepaskan saja. Tidak baik menikah dalam keraguan, keterpaksaan, meskipun katanya semua akan baik-baik saja seiring perjalanan waktu."

"Aku ingin sekali menikah denganmu, tapi ... Tolong beri aku keyakinan."

"Pergilah mas! Mungkin aku pun akan melakukan hal yang sama, dan aku pun sedang mencari seseorang yang bisa menerima dan lebih mencintai putriku."

"Aku harap, aku bisa kembali menjemputmu. Sekalipun tidak, aku yakin kamu pasti bahagia."

Jaka menyimpan satu harapan sebelum melangkah pergi meninggalkan Rika.

Ada perih dalam hati Rita melepas kepergian Jaka. Malam ini Rita harus bisa menerima keputusan yang dibuatnya dan Jaka.

"Bunda ... Kenapa menangis?" tiba-tiba suara Mila membuyarkan kesedihannya.

Rita terkejut, Mila selarut ini belum tidur, Rita segera menghapus airmata, tak ingin putrinya tahu dan ikut larut dalam kepedihannya.

"Tidak, sayang. Bunda tidak menangis"

Jawabnya, menyembunyikan seluruh pemikirannya.

Mila masih terlalu kecil mengetahui permasalahannya. Belum mengerti apa yang jadi permasalahan Ibunya