Skip to main content

Cerpen sosial kehidupan | Malaikat bermasker di hari kedua bulan ramadhan

Malaikat bermasker dihari kedua bulan ramadhan adalah cerita pendek tentang kehidupan sosial dalam masyarakatdi masa pandemi virus corona, menceritakan kepedulian sosial yang timbul dari manusia didasari oleh keyakinan iman kepada sesama.

Dalam cerpen bertema kehidupan sosial dikisahkan dua orang pemuda bermasker yang membantu seorang ayah dengan kondisi kaki cacat bernama Duan yang berprofesi sebagai penjahit sol sepatu pada bulan ramadhan.

Kedua pemuda tersebut merahasiakan identitasnya dan tidak ada fhoto atau video apapun yang mereka dokumentasikan saat memberikan bantuan karena memang Meraka tulus membantu.

Untuk lebih jelasnya cerpen tentang kehidupan sosial disimak saja cerpen naratif bertema sosial dan lingkungan sekitar atau cerpen singkat tentang kehidupan dibulan ramadhan berikut ini.

MALAIKAT BERMASKER DIHARI KEDUA RAMADHAN Author: Zaidan Akbar

"Hidup kini makin sulit saja."

Itulah kalimat yang terungkap dalam pikiran Ridwan, pria yang akrab dengan sebutan Duan, seperti itu orang orang sering memanggilnya.

Duan adalah seorang duda yang ditinggal mati oleh istri tercintanya tiga tahun silam saat sang istri melahirkan putra kedua mereka. Anak pertama mereka seorang putri yang kini sudah berusia enam tahun.

Duan, lelaki yang berumur empat puluh dua tahun ini juga seorang pria yang cacat. Kaki kiri Duan lumpuh permanen.

Bukan bawaan lahir tapi hal ini akibat dari kecelakaan yang menimpa Duan setahun setelah kematian istrinya yaitu saat ia bekerja menjadi seorang tukang bangunan. Kakinya terhimpit balok kayu.

Duan tidak menerima uang santunan sepeserpun dari kecelakaan itu, mungkin karena Duan bukanlah pekerja tetap tapi hanya seorang pekerja pengganti saja, maka sejak hari naas itu Duan berjalan dengan bantuan tongkat kayu penyangga. Begitulah kondisi Duan hingga kini.

Sedangkan untuk melanjutkan hidup dan menafkahi kedua anaknya. Duan berprofesi sebagai seorang penjahit sol sepatu. Pekerjaan ini Duan lakoni dengan tulus dan ikhlas.

Duan selalu berusaha dengan apa yang ia bisa. Hatinya selalu berguman.

"Yang penting bisa bekerja dengan halal dan tidak meminta minta." Seperti itulah prinsip yang dipegang Duan yang tak ingin hidup dari belas kasihan orang lain.

Duan juga biasa mangkal di trotoar depan toko kelontong Apek Achan di sebuah daerah dimana ia tinggal.

Ramadhan biasanya membawa keceriaan bagi Duan. Sebagai jebolan pesantren setingkat whusto tentunya Duan memang seorang muslim taat yang wajib berpuasa.

Di setiap ramadhan Duan juga sering mendapatkan penghasilan yang lumayan sebagai seorang penjual jasa jahit sol sepatu.

Saat- saat ramadhan pelanggannya banyak apalagi seminggu menjelang lebaran. Namun hal yang tidak biasa terjadi pada ramadhan kali ini. Ramadhan ini memang jauh berbeda untuk Duan. Pelanggannya sepi.

Rupanya dampak wabah virus yang belakangan ini merebak membuat ekonomi orang orang menjadi sulit karena minimnya pekerjaan yang bisa dilakukan.

Duan juga terkena imbasnya. Sudah empat bulan ini pemasukan Ridwan kerap tak mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Hasil yang ia bawa pulang selalu tidak lebih dari lima belas ribu perak Dalam setiap harinya bahkan pernah suatu hari ia pulang dengan hasil nihil alias kosong sama sekali.

Pada suatu ketika di sebuah hari yang mendung yakni hari kedua ramadhan, seperti biasa dua puluh menit sebelum masuk waktu sholat.

Duan sudah bergegas ke mesjid Istiqomah yaitu sebuah mesjid yang tak jauh dari lokasi ia mangkal. Kala itu Duan ingin melaksanakan sholat ashar.

" Lis ...!" Duan menyapa Mukhlis, yakni seorang pria yang sebaya duan dan tak lain adalah penjaga toko kelontong Apek Achan itu.

"Aku titip peralatanku ini ya, soalnya aku mau kemesjid, sholat ashar dulu," kata Duan kepada Mukhlis. Kemudian mukhlis hanya menjawab nya dengan mengangguk tersenyum.

Selesai sholat ashar kali ini Duan cukup lama juga di mesjid. Duan menyempatkan diri berdialog hukum agama bersama ustazd Buyung di situ.

Setelah semua usai Duan kembali ke tempat mangkalnya. Sesampainya di tempat itu yakni tempat di mana Duan biasa menjajakan jasanya, Duan sangat terkejut.

Duan melihat ada tumpukan sembako yang terdiri dari satu karung beras @10 Kg,satu kotak mie instan dan dua bungkus minyak goreng.

"Milik siapa semua ini, Lis?" tanya Duan kepada Mukhlis dengan terkejutnya.

" Ya punyamu lah wan! milikmu," kata Mukhlis pada Duan.

Duan terus saja menatap benda benda itu.

"Sudahlah wan! terima saja, tadi ada dua pemuda bermasker dengan sepeda motor matic putih datang membawa ini dan menitipkannya padaku, untuk pak Duan kata mereka, mungkin ini sudah jadi rezekimu wan," kata mukhlis

"Tapi semua ini dari siapa Lis! Aku juga kan ingin tahu siapa mereka ?" tanya Duan kepada Mukhlis.

"Entahlah, yang pasti mereka itu pemuda bermasker" sahut Mukhlis.

"Apa kau tidak tanya nama mereka?" tanya Duan lagi mempertegas pertanyaanya kepada Mukhlis.

"Tadi memang aku tanya nama kedua pemuda itu, tapi mereka jawab hanya hamba Allah dan mereka pergi begitu saja," jawab Mukhlis mencoba menjelaskan kejadian itu pada Duan.

Lalu Duan menghela napas panjang sembari batinya berucap syukur. Setelah itu Duan kembali dengan pekerjaannya sambil menunggu datangnya pelanggan meski tak ada satupun pelanggan yang menghampirinya Sampai sore dan bahkan sampai akhirnya ia memutuskan untuk pulang.

Sementara itu paket sembako yang tadi diperoleh Duan di masukkannya saja keadalam peti peralatan dengan semuat muatnya. Kemudian Duan pulang berjalan tertatih tatih perlahan bersama peralatan yang dipikulnya.

Memang cukup kuat tenaga Duan memikul beban beban itu walaupun jalannya dengan bantuan tongkat kayu penyangga sebagai pengganti kaki kirinya.

Sebelum pulang Duan singgah membeli takjil dan sebungkus es untuk anak sulungnya yang sedang berpuasa di rumah dan juga mungkin siputri sulung itu juga cukup capek karena mengasuh adiknya sepanjang hari.

sesampainya di rumah, menjelang berbuka puasa, Duan kembali di kejutkan. Karena selain paket sembako yang tadi, kini ditambah pula dengan satu karung beras @ 10 Kg lagi tapi kali ini dengan sepaket telor ayam serta gula dalam bungkusan besar, kira kira 5 kiloan.

"Ayah!" sapa Anisa Putri Duan

"Kakak-kakak bermasker dengan motor matic putih datang kemari dan mereka juga memberikan ini,"

kata Anisa sambil menyodorkan sebuah amplop putih. Duan membuka Amplop itu dan ternyata berisi uang di dalamnya, uang sebesar satu juta rupiah tapi selain itu juga terselip sebuah surat. Surat itu bertuliskan.

["Pak Duan, maaf tadi ada yang tertinggal. Soalnya baru ada tambahan dari teman-teman.

["Maaf juga jika kami lancang datang kerumah Bapak sementara Bapak tidak ada di rumah. Tidak banyak yang dapat kami beri cuma ini sekedarnya saja pak!

["Bapak jangan khawatir kami tidak bawa kamera. Tidak ada fhoto maupun video yang kami rekam dari Bapak, rumah Bapak serta anak-anak bapak. Kami juga tahu tentang kehidupan Bapak dan tidak akan kami share ke media sosial manapun tentang kemiskinan dan penderitaan Bapak bersama keluarga serta tidak akan kami ceritakan pada siapapun mengenai hal ini. Karna semua itu mungkin akan membuat bapak malu. Cukup kami, bapak dan Tuhan yang tahu tentang semua ini.

["Kami mohon agar Bapak tidak mencari tahu siapa kami. Kami hanyalah perantara Rizki yang diberikan Tuhan kepada Bapak yang memang itu sudah menjadi hak Bapak yang Tuhan titipkan pada kami. Semoga semua ini dapat membantu buat bapak dan anak-anak.

["Selamat berbuka puasa buat pak Duan dan anak-anak.

["Dari Hamba Allah.

Itulah sepucuk surat dari pemuda-pemuda pemuda bermasker itu yang dibaca oleh Duan dengan mata yang berkaca-kaca dan dalam hatinya berkata.

"Sungguh mulia hati yang Allah ciptakan di dada kalian wahai anak muda bermasker, semoga Allah selalu melindungi kalian yang ikhlas itu."

Kemudian menjelang lima belas menit lagi berbuka puasa. Duan menyempatkan diri mendatangi beberapa tetangganya yang juga kesusahan.

Lalu Duan membagikan berapa kilogram beras dan sedikit uang yang ia dapatkan tadi. Duan berbagi secukupnya untuk tetangga-tetangga yang membutuhkan. Begitulah Duan, seorang pria cacat yang penuh kasih sayang.

Sementara kedua pemuda bermasker itu di atas sepeda motor mereka terus memandangi apa yang Duan lakukan.

Duan juga merasa senang karena dapat berbagi dengan tetangganya yang kesusahan. Sementara Kedua pemuda bermasker itu masih saja melihat tindakan Duan dari kejauhan.

Kedua pemuda bermasker menaruh decak kagum. Mereka tersenyum namun tak sadar air mata keduanya menetes membasahi masker yang mereka pakai.

Kemudian suara beduk berbuka berbunyi jelas lalu Duan pun pulang berbuka puasa bersama anak anaknya dengan seadanya.

- S e l e s a i -

Pesan moral dalam cerita sosial kehidupan malaikat bermasker dihari kedua ramadhan

- Memberi bantuan tak harus dipamer
- Tidak perlu kaya harta untuk berbagi kepada sesama
- Sosok Duan itu ada didekat kita ia tak jauh dari sekitar kita tapi mungkin dengan wujud dan latar belakang yang berbeda.