Skip to main content

Cerita bersambung: Jangan panggil aku tuan muda part 45

JANGAN PANGGIL AKU TUAN MUDA

Mbak Eno masih memegang buku diari bersampul bunga mawar merah, dibukanya halaman yang ada penyekatnya, lalu disobeknya beberapa lembar yang ada tulisan tentang Arkhan, kertas itu disobek sobek kecil dan dimasukkan dalam plastik hitam, nanti akan dibakarnya kertas itu.

Memang saat ini harus memupus segala perasaan pada Arkhan,semua percuma dan hanya akan menyiksa perasaannya sendiri.

Setelah pernyataan Arkhan ketika bezuk ke rs dulu,yang menyarankan mbak Eno untuk menerima Bramantyo menjadi suaminya, mbak Eno jadi tahu bahwa Arkhan tak pernah punya perasaan padanya,dan rasa cinta dan kagumnya hanya bertepuk sebelah tangan,dan itu tak ada manfaatnya untuk masa depannya.

Jangan panggil aku tuan muda part 44

Mbak datang membawa segelas jus,menaruh diatas meja dan kembali masuk, tapi mbak Eno memanggilnya,

" mbak tolong ambilkan hp saya ya,"

" baik bu," jawab mbak sambil jalan.

Selama dirawat di rumah sakit mbak Eno tak pernah membuka hp,berarti selama itu juga mbak Eno tak tahu kabar apa apa.

Mbak datang dan menyerahkan hp pada mbak Eno.

Mbak Eno mencari nomor kontak Bramantyo,tapi setelah menemukan nomor Bramantyo,mbak Eno ragu untuk meneleponnya.

Mengenang tentang Bramantyo membawa mbak Eno pada masa awal ketika jadi guru honorer di Blora, sehari setelah menempati rumah yang diberikan pihak
sekolah mbak Eno yang belum begitu faham lingkungan agak bingung ketika mau berangkat mengajar, dan ketika itu datang lelaki yang menyapanya

" Selamat pagi bu guru,sepertinya lagi bingung ?" kata laki laki yang sedang nongkrong diatas motornya.

"Iya mas,mau berangkat mengajar tapi bingung mau naik apa," jawab mbak Eno.

"Memang di sini tak ada angkutan umum bu guru, gimana kalau saya antar," tawar laki laki itu sopan.

"Gak usah mas,nanti merepotkan," jawab mbak Eno

"Daripada ibu terlambat,ini kan awal ibu mengajar lho,nanti kalau terlambat ibu di nilai gak disiplin," rayu laki laki itu.

Mbak Eno bingung, karena merasa orang baru disini takut salah orang, apa lagi orang tak dikenal

Melihat keraguan di mata mbak Eno,laki laki itu turun dari motor dan mendekati mbak Eno,

"Oh ya kenalkan,saya Bramantyo,anak juragan beras di sini,jangan ragu semua orang kenal keluarga saya," Bramantyo mengenalkan diri.

Mbak Eno menerima uluran tangan Bramantyo dan menyebut namanya .

"Oh namanya Retno,cantik seperti orangnya," jawab Bramantyo

Mbak Eno hanya tersenyum, tapi setidaknya setelah perkenalan,antara mereka jadi lebih tidak kaku.

"Gimana,jadi diantar gak ?" tawar Bramantyo

Mbak Eno tak punya pilihan, akhirnya diantar ke sekolah membonceng Bramantyo.

Jangan panggil aku tuan muda part 43

Sejak saat itu Bramantyo rajin antar jemput, tapi mbak Eno merasa tak enak hati,lalu mbak Eno membeli sepeda kayuh untuk aktifitasnya di desa itu.

Walau begitu hubungan Mbak Eno dan Bramantyo tetap baik, kadang Bramantyo mengajak mbak Eno melihat lihat kebun dan peternakan milik ayahnya, atau bermain ke sungai menikmati pemandangan desa.

Hingga suatu hari Bramantyo menyatakan perasaannya pada mbak Eno,

"Kalau boleh aku ingin kau jadi istriku," kata Bramantyo

"Jangan bercanda lho ,"jawab mbak Eno

"Aku serius no,kalau saat ini suruh melamarmu aku siap," kata Bramantyo

" jujur,saat ini aku masih trauma," jawab mbak Eno

Saat itu Bramantyo tampak marah dan begitu kecewa.

Namun Bramantyo masih sabar menemani mbak Eno,walau kadang tak dianggap oleh mbak Eno.

Dan karena selalu diabaikan akhirnya membuat Bramantyo merasa dendam dan merencanakan sesuatu agar mbak Eno mau jadi istrinya.

Dan kejadian siang jahanam itu terjadi yang membuat mbak Eno jadi trauma

Tak terasa air mata mbak menetes mengingat peristiwa itu.

Sebenarnya Bramantyo itu baik, tapi keadaan yang membuat Bramantyo menjadi brutal seperti itu.

Hp mbak Eno berdering tanda ada WA masuk.

Aku masih cinta, aku masih menunggumu dan siapapun yang menghalangi akan aku singkirkan.

Ternyata WA dari Bramantyo,mau membalas mbak Eno tak jadi.

Sebegitu cintanya Bramantyo pada mbak Eno.

Bersambung ke: Cerita bersambung Jangan panggil aku tuan muda episode 46