Skip to main content

Cerpen: Air Mata Di Malam Hari

Berikut ini adalah cerpen atau cerita pendek tentang air mata di malam hari, Nah bagaimana kisah cerita dalam cerita singkat ini. Apakah sama halnya dengan cerpen airmata di malam hari persandingan atau tentang novel air mata di ujung malam

Untuk lebih jelasnya tentang cerpen air mata di malam hari, disimak saja cerpen tentang air mata di malam hari dibawah ini.

AIR MATA DI MALAM HARI

"Ting .. !!"
Satu notif WA masuk dan NO itu belum aku save, aku membaca pesan singkat itu.

"Hi apa kabar?"

Seseorang yang tidak aku kenali NOnya menyapaku.

"Baik, Maaf kamu siapa ?"

Aku membalas pesan singkat itu, diam2 aku memperhatikan foto profil di WAnya, pria itu mengenakan jas berwarna putih dengan seorang wanita mengenakan kebaya berwarna senada dengan jas yang dipakai si pria, aku menarik nafas, sepertinya aku mengenalinya.

"Maaf aku baru hubungi kamu, aku Yudi !"

Aku terdiam sesaat, tak terasa ada buliran air mata menetes di pipiku, Yudi adalah seseorang yang aku kenal setahun terakhir ini, aku sempat dekat dengannya meski saat itu aku tidak tahu kedekatan dengannya sebatas apa ?

"Kamu sedang apa Wi ?"

Yudi kembali mengirimkan pesan singkatnya, sengaja aku tidak langsung membuka pesan singkat itu, pikiranku mulai berkecamuk, mengapa Yudi kembali menghubungiku dengan NO barunya ? Dan siapa wanita cantik berkebaya itu ?

"Hmm.. a k u" . . .

Aku hanya mengirim pesan singkat seperti itu, entah aku harus menjawab apa.

"Aku sedang mengetik novel, gimana kabar kamu Yud ?"

Akhirnya aku menjawab jelas pesan singkat dari Yudi.

"Semenjak jadi penulis kata kata kamu sangat menyayat,, kabar aku baik Wi !"

Ternyata Yudi memperhatikan setiap tulisan yang ku tulis dan aku share di Instagramku, perasaan semenjak Yudi menghilang aku sudah meng'unfolow IG'nya, kenapa dia bisa tau postingan aku ? Mungkin dia masih suka stalking, bisikku dalam hati.

"Kata kata itu berawal dari kamu Yud !"

Yudi memberikan emoji terkejut

"Kok aku.. kenapa aku?"

Tanpa merasa bersalah Yudi mempertanyakan hal yang selama ini aku pertanyakan.

"Aku tahu Yud, saat kita dekat dulu dan suka jalan bareng, kita memang tidak ada apa-apa, kamu mungkin hanya menganggap aku sebatas teman, tapi kamu lupa ? Kamu pernah berjanji kepadaku untuk memperkenalkan aku dengan Mamah'mu yang tinggal di Jogja, jika kamu hanya menganggap aku sebatas teman, mengapa sampai kamu ingin memperkenalkan aku ke Mamah'mu?"

Lama pesan singkatku di WA'nya tidak di baca, ada sedikit rasa jengkel, seenaknya dia menyapaku lalu kini dia menghilang, aku kembali melanjutkan mengetik novel yang belum aku selesaikan.

"Dewi, ini sudah hampir jam tiga sore loh dan kamu Bunda perhatikan belum makan siang, kamu ini kalau sudah ngetik selalu anteng di depan laptop!"

Tiba tiba saja Bunda masuk kamar dan langsung ngomel ngomel.

"Bun, aku tuh udah kenyang sama cemilan, kerjaan aku deadline nih, aku harus kirim naskah novel aku ke penerbit, sebab bulan depan sudah mau launching lagi !"

Aku sedikit menggerutu.

***

Kring.. kring..

Telepon selulerku berdering, ku tengok layar HP'ku, Prayudi memanggil, mau ngapain sih dia masih menghubungiku ? Bisikku dalam hati.

"Hallo..!"

Akhirnya aku menjawab telepon itu.

"Dewi, aku kangen..!"

Tanpa tending aling2, Yudi langsung berkata demikian.

"Hah ? Kok bisa ?"

Aku sedikit terkejut.

"Memang gak boleh ya ?"

Tanpa perasaan bersalah, Yudi berkata demikian, hampir setengah tahun dia tak ada kabar, kini menelpon hanya untuk berkata demikian ?

"Buat apa ? "Bukankah kamu juga sudah menikah Yud ?"

Aku merebahkan tubuhku di atas kasur, dada ku tiba tiba terasa sesak,, semua kenangan pahit itu tiba tiba kembali lagi. di tambah cuaca sedikit mendung sore ini, tapi dari tadi belum turun hujan, lengkaplah sudah..

"Iya, aku memang sudah menikah dan yang di foto profil WA'ku itu adalah istriku !"

Yudi berkata dengan sangat hati-hati.

"Maafin aku Wi, waktu itu aku belum ada keberanian untuk memperkenalkan kamu dengan Mamah, memang aku pernah berjanji untuk membawamu ke jogja, tapi akhirnya aku sadar, aku tidak ingin kau menaruh harapan lebih padaku !"

Yudi menjelaskan mengapa saat itu akhirnya dia meninggalkanku, tapi bagi aku tetap saja semua itu terasa menyakitkan, jika memang dia tak ingin aku berharap lebih mengapa dia memberikan aku sebuah pengharapan ?

"Sudahlah Yud, lupakan saja aku baik2 saja kok !"

Aku mencoba bersikap biasa saja, aku tak ingin menunjukkan pada Yudi bagaimana sebenarnya aku merasa terluka.

"Aku meneleponmu hanya untuk minta maaf Dewi, terserah kamu mau memaafkan aku atau tidak, tapi aku benar2 menyesal!"

Keadaan hening, aku hanya menarik nafas yg begitu terasa sesak, terdengar di sana Yudi'pun menarik nafas.

"Saat itu aku belum memiliki pekerjaan tetap, bagaimana mungkin aku mengajakmu menikah jika aku sendiri masih bergantung dengan orangtuaku!"

"Sudahlah Yud..!"

Aku memotong pembicaraan Yudi, mencoba untuk tidak ingin mendengar apapun lagi darinya.
Tapi aku gagal.. Yudi kembali melanjutkan penjelasan'nya

"Sampai akhirnya, Mamahku menjodohkan aku dengan anak dari sahabat Mamah yang di jogja, kamu tahu Wi ? Aku sangat mencintai Mamah, dan aku tak ingin membuatnya kecewa!"

Yudi kembali berbicara dan mengungkapkan perasaannya, aku hanya mampu terdiam .

"Saat itu aku tidak ada keberanian untuk mengatakan bahwa aku sudah memilikimu, aku benar-benar tidak ingin membuat Mamah sedih !!"

"Yud maaf ya, aku harus segera bergegas mandi, masih banyak tulisan yang harus aku selesaikan !!"

Aku mencoba mengakhiri percakapan kami di telepon.

"Aku selalu membeli buku novel kamu Wi, dan setiap kali aku membacanya, aku paham ada rasa kecewa yang kau ungkapkan dari tulisanmu !!"

"Yud, aku tidak pernah merasa kecewa terhadap siapapun dan apapun, jangan kau kaitkan apa yang aku tuliskan dengan perasaanku..!"

Kali ini aku berbicara dengan nada ketus, aku tidak suka seakan Yudi sok tahu dengan keadaanku.. meski ia mungkin berkata benar

"Maafkan aku Wi, sekali lagi aku minta maaf semoga kamu berkenan memaafkan aku !"

Suara Yudi terdengar sayup.

"Semoga kamu bahagia Yud, aku sudah memaafkan !"

Dan akhirnya aku mengakhiri telepon itu.

***

Aku mengenal Yudi dari sebuah aplikasi media sosial Path, entah siapa yang memulai yang pasti saat itu kita sering berinteraksi, sampai pada akhirnya Yudi meminta pin BBM ( Blackberry Messenger ) dan semenjak itu kita sering chat, sampai akhirnya suatu saat kita memutuskan untuk bertemu.

Awal bertemu dengannya, aku melihat Yudi sosok yang ramah, menyenangkan, dan langsung membuatku merasa nyaman, dan akhirnya hubungan kita terus berlanjut, aku jatuh cinta padanya, begitupun Yudi padaku, memang saat itu Yudi bercerita kalau dia sedang mencari pekerjaan, dan aku terus mensupportnya, pernah suatu ketika Yudi ada panggilan kerja dia tak ada ongkos, lalu aku memberinya uang sekedar buat ongkosnya, orangtua Yudi memang tinggal di jogja, sedangkan Yudi tinggal dengan salah satu kakaknya di Jakarta.

Semenjak melamar pekerjaan itu, Yudi tak ada kabar, aku mencoba menghubungi namun nomernya sudah tidak aktif, BBM'nya sudah tidak aktif, bahkan foto profil yang terakhir kali di pasang di BBM'nya adalah foto di saat aku dan Yudi pergi nonton, meski yang kita foto hanya dua pasang tiket masuk, aku memegang tiketku, begitu juga Yudi.

Aku berfikir mungkin Yudi sudah di terima kerja, dia sibuk dan aku masih berfikir positif bahwa Yudi akan menghubungiku di saat dia tak sibuk, namun hingga hampir setahun Yudi menghilang bagai di telan bumi, dan kini dia hadir dengan menggunakan foto profil WA dengan wanita berkebaya putih.

Lalu dia menghubungiku kembali hanya untuk meminta sebuah maaf, Yudi tahu aku hanya mempunyai satu nomer dari dulu, dan rupanya dia masih menyimpan nomerku, semudah itu dia menghubungiku hanya untuk sebuah kata maaf ? Kembali aku meneteskan air mataku.

***

Seminggu setelah Yudi menghubungiku, dia kembali tak ada kabar, aku penasaran dengannya ku coba lihat kontak WA terakhir terlihat ketika dia menghubungiku seminggu yang lalu, WA Yudi sudah tak aktif ? Bisikku dalam hati, aku mulai penasaran dengannya, ada apa sebenarnya ? Tiba2 terlintas di benakku untuk mengirimkan pesan singkat sekedar bertanya kabarnya, tapi bagaimana jika nanti yang menjawab istrinya ? Aku tidak ingin ada salah paham.

Akhirnya aku mengurungkan niatku, namun ketika malam menjelang perasaan untuk menanyakan kabarnya semakin besar, kenapa tiba2 aku ingin tahu ? Mengapa Yudi terlihat seperti misterius ? Kembali ku buka kontak WA'nya, dan betapa aku terkejut melihat notif Yudi "Online" syukurlah dia masih ada, bisikku dalam hati.

Aku mencoba memejamkan mata, namun kata2 Yudi terus terngiang di kepalaku, caranya meminta maaf seakan Yudi benar2 menyesal, dan aku sempat berkata ketus padanya, kenapa jadi aku yang merasa bersalah ?

Akhirnya aku memutuskan untuk mengirimkan pesan singkat, mungkin dengan bertanya kabar. Ku ambil telepon genggamku, ku buka kontak WA'nya dan mulai mengetik.

"Apa kabar Yud..?"

Lama tak ada balasan, aku berfikir mungkin Yudi sudah tidur, padahal baru jam sepuluh malam. Sudahlah aku langsung end chat pesan singkat itu.

"Tling..!"

Hampir setengah jam, notif WhatsApp ku berbunyi, aku langsung membuka, dan benar saja pesan itu dari Yudi, aku membukanya penuh rasa debar!

"Maaf ini siapa ?"

"Deggg !!!" Jantung ku berdebar dengan sangat kencang,, karena balasan pesan singkat itu terasa asing dan kurang menyenangkan,
sial,, jangan2 ini istrinya,, aku menggerutu dalam hati.

"Saya teman sekolah Yudi dulu, ingin mengundang Yudi untuk hadir di reuni akbar alumni kita !"

Akhirnya aku membalas pesan singkat itu, entah ide dari mana aku bisa mengetik demikian, aku hanya panik. Lima menit tak ada balasan, sampai akhirnya notif kembali berbunyi..

"Maaf Mas, saya istrinya Mas Yudi !"

Ahh,, syukurlah, dia menganggap aku teman laki2 Yudi, aku memang tidak pasang foto ku sendiri di profil WA. Akhirnya aku memanfaatkan situasi ini.

"Saya yang minta maaf Mbak kalau malam2 sudah mengganggu, hanya ingin mengundang Yudi untuk hadir di reuni nanti!

Kini pesan singkat itu langsung terbaca, dan seseorang di sana langsung terlihat merekam suaranya dalam bentuk Voice Note.

"Maaf Mas, Mas Yudi sudah meninggal dunia seminggu yang lalu !" Akibat leukemia".. ada suara isak yg tertahan disana samar samar ku dengar

Kemudian ia memberikan emot sedih dan tangis.

"Sampaikan kepada teman2 Mas Yudi, jika Mas Yudi ada salah mohon di bukakan pintu maaf yang sebesar-besarnya!" .. Voice Note ke dua terdengar begitu menyedihkan

Kembali aku melihat emot sedih yang di kirimkan, aku tak tahu harus membalas apa ? Seminggu yang lalu adalah hari di mana Yudi menghubungiku, Ya TUHAN.. tak terasa air mataku menetes, ternyata Yudi menghubungiku hanya untuk pamit pergi, dia ingin pergi dengan tenang, tanpa ada rasa menyakiti kepada orang2 yg pernah di kenalnya, dadaku sesak, tanganku gemetar, aku tidak tahu harus membalas apa ?

"Inalillahi Wainnailaihi rojiun, saya turut berdukacita mbak !" .. sekuat tenaga aku mencoba menahan tangis agar ketikan ku tidak menjadi kacau,,

Hanya itu yang mampu aku tuliskan, kemudian aku menangis, aku tak ingin Bunda tahu maka aku dekapkan semua bantal dan guling yang ada ke wajahku, suara Yudi di telepon seminggu yang lalu masih terngiang-ngiang. Aku kembali membuka profil WAnya, tiba2 mataku tertuju pada foto profilnya, aku seperti mengenali foto yang di pasang di profil WA Yudi, aku buka dan aku perbesar, ternyata itu adalah salah satu puisiku yang aku posting di akun Instagramku. Aku kembali membaca.

"Terima kasih pernah mencintaiku
Jika suatu saat aku pergi
Cintamu kan terukir di hati
Maafkan untuk luka yang pernah
Menghampiri tapi biarlah aku terus
Membawa cinta ini entah sampai kapan"

-Dewintapoetry-

Puisiku jelas terpasang di foto profil Yudi, aku membacanya berkali2 dan berkali pula aku meneteskan air mataku.

"Maafkan aku Yud, mungkin kalau aku tak mengakhiri percakapan kita saat itu, aku masih bisa mendengarkan apa yang ingin kamu sampaikan, tapi percayalah aku sudah memaafkan'mu, jauh sebelum kau menghubungiku, beristirahatlah dengan tenang Yud!".. aku mengizinkan mu untuk membawa perasaan yg pernah ada di antara kita..

Karena jauh di dalam lubuk hati ini,
akupun masih merasakan itu..

TAMAT