Skip to main content

Kenakalan remaja (fatamorgana cinta part 07)

Masa remaja adalah masa indah yang biasa juga di sebut sebagai masa pencarian jati diri, masa peralihan dari anak anak menjadi remaja ini terkadang emosi labil sehingga kenakalan remaja sering ditemui seperti tawuran dan lain-lain.

Tentang kenakalan remaja dan tawuran ini ada dalam cerita bersambung tentang cinta anak remaja dibagian ketujuh fatamorgana cinta, selengkapnya kisahnya dismak saja berikut ini.

Fatamorgana Cinta Part 07 Author : Ersu

Gue tak enak makan tak enak minum. Sampai pada akhirnya kuputuskan untuk ke rumahnya, tapi kulihat Embun berjalan menuju warung, dan kuikuti sampai pada akhirnya ia keserempet mobil.

Pas tadi pagi gue video call dia, malah sepertinya ada yang tidak beres dengan otakku ini, karena selalu di penuhi bayangan wajahnya.

Gue segera menghampiri Embun yang terjatuh di bahu jalan, dan kubantu ia, Embun sedikit terkejut ketika menatapku. Ketika kutanya mau ke mana, ia bilang mau ke minimarket.

Setelah dari minimarket, kubawa Embun ketukang urut langgananku. Ya, kalian tahu sendiri kan gue tidak sebaik yang Embun kira, gue yang sering tawuran dulu sewaktu SMA, sering terkilir pergelangan tangan ataupun kaki. dan bahkan pernah tanganku patah, dan bapak tukang urut itulah yang membantu untuk membetulkan tulang yang patah tanpa ke dokter.

Ketika melihat Embun gelagapan di saat ia bertanya apa gue sudah beristri tentu membuatku tersenyum geli. Bola matanya tidak bisa menyembunyikan rasa kecewa yang tersirat dari pancaran matanya. Gue rasa tidak salah jika dia pun menyukaiku. Semoga saja perasaan dia juga sama seperti perasaanku.

Fatamorgana Cinta Part 06

Hujan yang sebelumnya tidak pernah kusukai kehadirannya, untuk kali pertama gue berterimakasih kepada hujan yang telah turun malam ini. Setidaknya gue bisa menatap rambutnya yang sedikit basah, dan bibirnya yang mengigil kedinginan.

Untuk pertama kalinya hati ini terenyuh oleh perjuangan seorang Ayah untuk keluarganya. Ya, ketika kulihat Ayahnya embun dengan tubuhnya yang telah renta masih mengayuh becaknya di bawah langit malam. Ada yang teriris dan perih di dalam sini, tapi tidak terluka.

Gue yang tidak pernah mensyukuri karunia yang gue rasakan selama ini. Gue hanya menjadi anak yang selalu menyusahkan orang tua. Bahkan dari sejak duduk di bangku SMP sampai keluar SMA selalu saja membuat kedua orang tuaku geram, dengan semua yang kulakukan. Entah itu di panggil oleh kepala sekolah karena tauran. Ataupun di panggil ke kantor polisi karena saling bacok. Ah, sungguh gue ini anak yang tidak berguna.

Sepulang dari rumah Embun, ingin rasanya gue langsung pulang ke rumah dan memeluk Bokap dan bilang gue menyayanginya.

Tapi sepertinya garing banget jika gue berkata begitu. Hanya nyokap gue lah yang paling mengerti dan gak pernah marah sama gue walaupun sebesar apapun masalah yang pernah gue buat.

****

"Dari mana?" tanya Bokap sambil menatap tajam.

"Dari rumah teman," jawabku.

Benarkan, mana berani gue meluk dan bilang jika gue menyayanginya. Baru lihat tatapan tajamnya aja sudah membuat nyali ini menciut. Padahal dulu, gue paling berani melawan. Tapi semenjak hari itu, gue tak lagi dekat dengannya.

°°°°°°

Flashback

"Habisin nyawanya! Mumpung dia lagi sendiri!" pekik beberapa orang.

Gue yang melihat sekian belas orang yang memegang sajam (senjata tajam) mengepung gue yang tengah berjalan sendiri.

"Woi kalian beraninya keroyokan. Lo kalau berani satu lawan satu tanpa senjata tajam!!" hardikku sambil mengepalkan tangan.

Fatamorgana Cinta Part 05

"Ok! Tanpa senjata tajam. Kita satu lawan satu!" pekik Farel.

Perkelahian di mulai satu lawan satu. Tetapi ketika Farel mulai kalah kesemua temannya menyerang dengan berutal. Gue yang menyadari tidak mungkin menang melawan mereka jalan satu-satunya adalah kabur.

Gue yang berlari sudah sangat jauh terus di kejar oleh mereka. Selama ini sekolah gue yang selalu menang jika tawuran bersama sekolah Farel. Tapi jika main keroyok seperti ini siapapun juga pasti kalah. Dan sepertinya mereka pun sudah merencanakannya, makanya tahu jika gue lagi sendiri.

Mereka pun berhasil mengejar dan memukul, dan gue pun tidak tinggal diam. Melawan balik, kekuatan gue sepertinya berkali lipat bertambah karena serangan dari mereka. Beberapa orang yang melihat hanya menyaksikan begitu saja tanpa membantu, Karena mereka pun mungkin takut karena Genk Farel membawa senjata tajam berupa samurai.

Ketika beberapa orang mulai mundur karena perlawananku. Tiba-tiba gue terjatuh, dan ketika akan bangun, salah satu dari mereka mengayunkan samurainya ke arah leherku. Gue yang kala itu mulai gelap, meraih batu yang ada di dekat, dan melemparkannya ke kepala orang itu.

Bruuukk.

Samurai yang sekitar sejengkal lagi ke leherku. Jatuh ke tanah dengan semburan darah dari kepala orang itu yang di sebabkan lemparan batu yang kulempar.

Kepalanya pecah.

Gue menatap kedua tangan yang tak sengaja melemparkan batu tersebut karena refleks. Semua orang teriak histeris. Genk Farel kembali menghajar gue habis-habisan. Gue hanya diam tak melawan, hingga akhirnya gue pingsan. Dan ketika sadar sudah berada di rumah sakit keramat jati.

Menyandang status sebagai tersangka, sungguh sangat tidak enak. Semua orang menjauh, tak ada lagi teman nongkrong yang biasa bersama gue, tak ada satupun teman atau sahabat yang peduli dengan keadaan gue saat itu.

Tempat TKP saat reka adegan di penuhi banyak orang yang ingin tahu. Polisi berseragam lengkap menjaga sekeliling. Tanganku yang di borgol dan di teriaki oleh keluarga korban.

Sebelum memulai reka adegan, gue meminta maaf kepada kedua orang tua korban tapi, yang ada gue malah dapat berondongan pukulan.

Dan semua berjalan dengan lancar. Saat BAP pun tak ada hambatan apapun. Dari semua saksi tidak memberatkan. Karena gue melakukan itu hanya untuk membela diri yang akan ditebas oleh samurai oleh korban itu sendiri.

Fatamorgana Cinta Part 04

Saat sidang gue di hukum sekian tahun penjara. Dan ketika sidang keputusan hanya ibu gue yang datang dan selalu berderai airmata. Dan yang lainnya entah kemana, bahkan bokap pun tak pernah sekalipun nengok gue di penjara.

Pas sidang keputusan, gue minta maaf lagi kepada kedua orang tua korban tapi seperti biasa mereka hanya mengumpat dan memaki. Sebegitu besarnya rasa benci mereka ke gue. Mereka tak menyadari jika waktu itu gue gak melempar batu kepada anaknya mungkin yang jadi tersangka saat ini adalah anak mereka, dan gue yang menjadi korban.

Setelah selesai ujian dan baru menerima kelulusan SMA gue harus menekam di balik bui, ibu gue setiap kali besuk hanya menangis dan menangis. Tetapi bokap tak sekalipun nanyain keadaan gue di dalam bui. Gue minta di bebasin ke ibu, dia hanya bilang nanti setelah Bokap gue yang memberikan jaminan kepada polisi.

Pagi itu setelah gue menjalani masa tahanan 9 bulan, polisi mengeluarkan dari dalam sel, dan berkata jika gue telah bebas bersyarat. Gue keluar yang di sambut tangis haru ibu. Sepanjang di perjalanan ibu tak henti-hentinya memeluk. Dan memintaku agar tak melakukan hal seperti ini lagi.

Sesampai di rumah semua nampak asing, bahkan kamarku kosong tak ada satupun barang yang kumiliki. Aku bertanya kepada ibu kemana semua barang-barangku.

"Di rumah ini tidak menyimpan barang-barang seorang penjahat apa lagi pembunuh!!" hardik Ayahku.

"Pah! Apa maksud Papah?" pekikku.

"Rizkian!! Cukup ini yang terakhir kali kamu membuat kesalahan! Jika sekali lagi kamu membuat kesalahan jangan pernah memanggilku Papah!" hardiknya.

______

"Jangan kebiasaan keluyuran lewat magrib!" pekik Ayah membuyarkan lamunanku.

"Iya," jawabku, dan segera lari ke lantai dua. Karena ada yang tiba-tiba basah dari kedua kelopak mataku.

"Kak, kata Mama makan dulu," panggil Resa.

"Bilangin aja sudah makan tadi di luar," teriakku.

***

"Pah, jangan seperti itu lah sama Rizkian, kenapa Papah masih saja dingin terhadapnya?" kata ibu sambil memijat pundaknya.

"Bu, kamu tahu kan, aku berharap jika dia nanti meneruskan perusahaan! Tapi apa? Dia selalu saja membuatku kecewa. Dia tumbuh menjadi anak yang brutal! Rizkian bagaimana pun juga sudah punya daftar hitam yang akan selalu mencoreng namanya! Bahkan sekarang dia malah mengambil jurusan seni rupa. Mau jadi apa anak itu?"

"Pah, sudahlah, Papah jangan terus menerus menyimpan kebencian kepada Rizkian," pinta ibu.

"Aku tidak membencinya Bu, bahkan aku menyayanginya, makanya waktu itu kubiarkan Rizkian mendekam di balik bui sekian bulan, agar dia bisa merubah sikapnya."

Fatamorgana Cinta Part 03

Kumenghentikan langkahku yang hendak mengambil minum ke dapur. Dan kembali masuk ke dalam kamar.

Tak terasa mata ini berembun dan mulai basah. Ternyata gue salah. Bokap yang selama ini bersikap dingin ternyata itu adalah caranya menyayangi gue.

****

Kenapa sepagi ini di kampus sudah ramai dengan kerumunan orang, gue hanya menatap dari kejauhan.

"Gio, ada apa? Kok rame banget?" tanya gue.

"Tuh, si Arga menghajar si Farel," jawab Gio.

Gue segera menghampiri kerumunan dan benar saja di Arga menghajar si Farel.

"Lo berani sekali lagi mengganggu adik gue! Putus leher Lo!" pekik Arga.

Terlihat Embun yang tersungkur di dekat Farel, meneteskan darah segar dari bibirnya.

Farel memukul balik Arga, dan Embun menghalangi Farel sehingga Embun kembali kena tamparan Farel.

"Lo gak bosen-bosennya bikin masalah ya!" Gue hajar si Farel hingga nyungsep.

"Dasar pembunuh!" pekik Farel.

Semua orang memandang ke arah gue, termasuk Embun dan Arga.

"Gue lebih baik menjadi pembunuh orang macam Lo! Daripada menjadi orang yang terlihat baik tapi brengsek!"

Tak lama rektor kampus menghampiri, dan menggiring gue, Farel, Arga, dan Embun ke ruangannya.

***

"Riz, thanks ya sudah belain gue depan rektor," kata Arga. "Oh iya, kenalin ini Ade gue Embun," lanjut Arga.

"Oh, dia Ade Lo ya," ucapku, sambil mengulurkan tangan kepada Embun, dan so gak kenal.

Bersambung ke: Menyatakan cinta kepada wanita pujaan hati