Skip to main content

Mengharukan!! Hujan maafkan aku (gadis hujan part 03)

Setelah cerita menyentuh hati tentang melepas kerinduan ibu bersama hujan selanjutnya adalah bagian terakhir cerita mengharukan tentang seorang anak merindukan ibu yang telah meninggal dunia.

Bagaimana cerita yang mengarukan dan menyentuh hati prihal anak yang kehilang ibu, selengkapnya disimak saja dalam kisah cerita hujan maafkan aku berikut ini.

GADIS HUJAN Part 03Autor: Zikano

Satu minggu tanpa hujan, Kinar masam, dia selalu uring-uringan, seperti hari ini, saat Neneknya datang berkunjung, Kinar yang biasanya menyambut dengan senyum, kini menyapa dengan raut cemberut.

"Kinar, kenapa sayang?" tanya Bu Yanti kepada Kinar lembut.

"Apakah, ini sudah musim kemarau, Nek? Kenapa sudah satu minggu tidak hujan?"

"Masih musim hujan, Sayang. Musim kemarau masih sebulan lagi."

"Kinar, tidak suka musim kemarau, tidak ada hujan, Ibu pasti tidak akan pulang," sahut Kinar dengan mata berkaca.

Bu Yanti mendekap cucunya, dia tidak akan bisa memberikan alasan apapun kepada Kinar untuk tidak merindukan hujan.

Reza keluar dari kamar, hari minggu yang biasa dihabiskan bersama Kinar dengan jalan-jalan, hari ini mereka memilih di rumah saja, Reza sempat sakit kemarin, karena dia terlalu lama berdiri di bawah hujan minggu lalu di taman.

"Duduk sini, Za."

Bu Yanti menepuk kursi kosong di sebelahnya. Kinar melirik ayahnya, sekilas, lalu membuang muka.

Kinar lantas merebahkan tubuh di sofa, dengan meletakkan kepalanya di paha Bu Yanti, sambil melihat film kartun dari layar ponsel Neneknya.

"Ibu pikir, sudah waktunya kamu mencari ibu buat Kinar. Kasihan dia, Kinar tidak bisa terus-terusan seperti ini," ucap Bu Yanti kepada Reza, putra semata wayangnya.

"Aku, tidak berpikir untuk menikah lagi, Bu. Aku bisa membesarkan Kinar sendiri."

"Tapi, Kinar, tidak bisa, Za! Kamu jangan egois seperti ini," tegas Bu Yanti.

"Sudahlah, Bu. Tidak ada lagi tempat untuk orang lain dalam hidupku." Reza hendak beranjak, tapi Kinar menghentikannya.

"Ayah, jahat. Kinar mau ibu, Kinar ingin seperti teman-teman Kinar," sahut Kinar, dia mulai tersedu.

"Kinaaar, dengarkan Ayah. Kinar bisa minta apapun dari Ayah, semua yang Kinar mau, kita bisa hidup bahagia, Sayang."

Reza memegang bahu putrinya, lalu memeluknya. Kinar terisak, Bu Yanti hanya memandang mereka sambil menggelengkan kepalanya.

"Tidak bisakah kamu membuka hatimu untuk orang lain, Za? Fio sudah kembali bahagia bersama Aska di surga, harusnya, kamu juga bahagia. Jangan kembali terpuruk, cukup sekali, karena kali ini, Fio, tidak akan pernah kembali."

Reza semakin mengeratkan pelukannya. Kinar putri semata wayangnya, kenangan terakhir yang diberikan Fio untuknya setelah sekian puluh tahun.

"Ayah, maafkan, Kinar. Ayah, jangan nangis."

Kinar melepaskan pelukan Reza, mengusap mata basah ayahnya. Reza melakukan hal yang sama, mengusap lembut pipi Kinar yang cabi.

"Kinar, janji gak nakal lagi. Kinar nggak mau Ayah sedih lagi."

Reza kembali memeluk putri kecilnya. Bu Yanti hanya bisa ikut menitikkan air mata.

Cinta Reza yang tak pernah bisa digantikan oleh siapapun, bahkan disaat cintanya telah lebih dulu mendahuluinya menghadap Sang Pencipta.

Awan mengarak mendung, langit seketika gelap, hujan dengan tiba-tiba turun ke bumi, tanpa pertanda, tanpa permisi.

Kinar yang biasanya berlari sambil menari, kini hanya bisa meluapkan rindu dalam hati.

Hujan di mata Ayahnya telah lebih dulu hadir, membuat hati kecilnya tak ingin kembali memberi luka.

Gadis hujan part 01

"Ibu, maaf aku tak menunggumu kali ini. Ayah menangis, Ayah sedih. Kinar merindukan Ibu, tapi Kinar, juga sayang Ayah. Kalau hari ini ibu pulang, langsung masuk saja, pintu depan tidak aku kunci," batin Kinar bergumam lirih.

Dalam pelukan Reza, Kinar terus menatap hujan dari jendela kaca yang mulai buram, entah karena matanya yang basah, atau karena angin membawa pergi rindunya, membisikkannya pada langit, menyampaikannya ke surga.

"Hujan, maafkan aku."

🌧️🌧️🌧️

-Selesai-