Skip to main content

Siapa takut! Cerita menghadapi candaan suami yang ingin menikah lagi

Siapa takut adalah cerita mini yang inspiratif tentang seorang istri menghadapi candaan suaminya yang ingin menikah, dengan cara nya, dia sukses membuat suami malah cemburu.

Tentu perasaan wanita ketika suami menikah lagi, sakit hati dan hancur lalu bingung apa yang harus dilakukan, kisah cerita tentang suami istri yang dipublikasikan blog fiksi bisa dijadikan motivasi dan contoh menghadapi suami bercanda ingin menikah lagi.

Kisah ceritanya menceritakan istri yang tau ciri suami mengatur strategi untuk merencanakan sesuatu yang sudah bisa tebaknya, ingin menikah lagi, cerita selengkapnya disimak saja ceritanya dbawah ini.

Cermin: SIAPA TAKUT! Author: Rima Hutabarat

Ini cuma pagi yang biasa, juga dengan aktivitas seperti biasa. Hanya gelagat suamiku yang tidak biasa.

Ia berdiri sambil bercermin dengan mengenakan kaus dalam dan celana panjang. Kemeja kerjanya masih di pangkuanku, satu kancingnya mendadak putus saat hendak dikenakan.

"Ma," panggilnya dengan senyuman yang terbit di bibir.

"Papa ganteng, nggak?"

"Ganteng," jawabku tanpa mengalihkan perhatian dari jarum dan benang jahit.

"Ganteng mana sama yang dulu?" tanyanya lagi.

"Hmm ... sama aja, sih," sahutku singkat sambil menggunting sisa benang.

"Kalau misalnya Mama baru ketemu Papa sekarang, naksir nggak?"

Aku mengernyit mendengar ucapannya barusan. Pertanyaannya terdengar aneh di telingaku. Apalagi selama ini suamiku termasuk tipe yang tidak terlalu memedulikan penampilan.

Ingin rasanya mencecarnya karena rasa penasaran, tapi simpul otakku mengirim sinyal untuk tetap berpikir positif.

"Kalau lihat bentuk yang sekarang, belum tentu juga, sih, Mama naksir Papa," ucapku sambil membantunya mengenakan kemeja yang kancingnya sudah selesai kujahit.

"Kok, 'gitu?"

"Yah, mungkin saja dulu Mama naksir Papa karena dipelet," bisikku di telinganya.

Dia langsung tertawa lepas.

"Kawan Papa di klub pancing ada yang baru nikah lagi," lanjutnya saat aku sedang memasang dasi bermotif garis abu-abu di lehernya.

"Oh, ya?" ujarku masih berusaha terlihat biasa, walaupun sebenarnya detak jantungku mulai terasa tak beraturan.

Jelas-jelas aku bisa meraba ke mana arah percakapan ini.

"Iya, sama gadis 22 tahun," ujarnya dengan mata berbinar.

"Cantik lagi."

Aku berusaha tersenyum meskipun dada ini seakan mau meledak menahan emosi. Yang begini ini harus dihadapi dengan kepala dingin supaya terlihat tidak murahan. Marah bukan jawaban. Lebih baik cari jurus yang lebih elegan.

"Papa juga mau?"

"Mau apa?" tanyanya pura-pura polos.

"Nikah lagi."

Aku menawarkan.

"Mama kasih izin?"

Binar-binar mulai terbit di matanya.

"Kalau ada calonnya, Mama setuju-setuju saja," ucapku berusaha tenang.

"Lagi pula belum tentu juga ada yang masih mau sama Papa."

Kukatakan itu dengan ekspresi datar sambil merapikan rambutnya.

Aku pernah membaca sebuah artikel. Menghadapi lelaki yang sedang dalam mode atur seperti ini, perempuan tidak boleh terbawa emosi dan kehilangan percaya diri.

"Iya, juga ya," gumamnya sambil mengangguk.

Mengamati raut wajahnya, bisa kupastikan isi kepalanya sedang mengatur strategi untuk merencanakan sesuatu yang sudah bisa kutebak.

"Mama nggak apa-apa kalau punya madu?" tanyanya setelah terdiam sejenak.

"Memangnya Mama tadi bilang setuju punya madu?"

Aku balik bertanya.

"Loh, katanya ngizinin Papa nikah lagi?"

"Mama izinin, tapi abis itu Mama cari yang lain," kilahku sambil tertawa geli.

"Emang masih ada yang mau sama Mama?"

Gantian ia yang mencoba menjatuhkan percaya diriku. Kalau cuma sekedar kemampuan ini yang ia kerahkan, aku punya cara jitu untuk menangkisnya.

"Nggak tahu juga, sih," ucapku santai.

"Cuma kemarin di group FB alumni, ada kabar kalau mantan Mama, Riyadi, yang punya supermarket gede di Jakarta, istrinya baru meninggal. Terus, si Abbi, mantan Mama yang kerja di Singapura juga belum kawin-kawin sampai sekarang."

"Eh?"

Air mukanya seketika berubah. Jurus ini memang paling manjur. Ketika berbicara tentang mantan, memori otaknya pasti memutar balik semua jerih payahnya dahulu saat memperebutkan hatiku dari lawan-lawannya.

"Santai, cuma sekilas info," hiburku sambil menepuk bahunya sekilas.

"Jangan ngegas, dong, Ma."

"Mama nggak ngegas, cuma sekedar menyamai kecepatan Papa," tangkisku santai sambil tertawa.

Suamiku ikut tertawa, tapi dengan nada getir kali ini. Ia meraih pinggangku merapat dan memandangiku sambil tersenyum. Lalu beberapa kecupan mendarat di dahi dan pipiku.

"Berangkat, deh. Nanti telat," bisikku saat pelukannya tak juga merenggang.

Kuantar suami hingga masuk ke mobil seraya memastikan barang bawaannya tak ada yang tertinggal. Ia menatapku lama dengan sebelah tangan menumpu di kaca jendela.

"Ma, yang tadi itu, Papa nggak ada niat macem-macem," ujarnya dengan nada menyesal.

"Papa cuma bercanda."

Aku langsung menegakkan posisi berdiriku seanggun mungkin. Lalu dengan pura-pura genit, kutundukkan tubuh hingga sejajar dengannya yang duduk di dalam mobil. Kukedipkan sebelah mata sambil mencolek dagunya.

"Kalo beneran juga nggak apa-apa, kok, Pa. Jadi Mama bisa CLBK."

Tak dapat kutahan tawa ketika sepasang mata itu mendadak melotot pada lambaian tanganku. Ah, suamiku sayang, jangan pikir cuma kamu yang punya kesempatan tebar pesona. Aku juga bisa.

Kamu jual, aku beli. Siapa takut?

TAMAT